Selasa, 17 April 2018

Proyek Ambruk, PT WIKA Beringsut Luruh


WIKA atau lengkapnya PT Wijaya Karya (Persero), Selasa, 17 April 2018, jadi pembicaraan publik Indonesia, terutama di Sulawesi Utara. Hari itu, Wika jadi berita utama sejumlah media daring dan kemudian pada esoknya, ada beberapa surat kabar di Sulawesi Utara yang terbit di Manado memuat peristiwa tersebut sebagai headline berita halaman satu.
Apa gerangan yang terjadi dengan WIKA? Ternyata, PT WIKA sedang membangun jalan tol Manado-Bitung, Sulawesi Utara. Konstruksi bangunan jalan runtuh, semula disebut-sebut adalah jembatan di Desa Tumaluntung pada ruas jalan tol Manado-Bitung. Tetapi pihak WIKA kemudian mengumumkan secara resmi melalui siaran pers Selasa(17/4/2018) yang dikirim ke sejumlah media di Jakarta, proyek yang runtuh di proyek jalan tol Manado-Bitung bukanlah konstruksi tol. Konstruksi yang runtuh merupakan overpass atau jalan layang yang melintas di atas konstruksi tol (yang belum dibangun).
Pembangunan jalan layang yang berada di Desa Tumaluntung, Minahasa Utara, itu terdiri atas 2 slab atau lempengan dengan spesifikasi panjang 36 meter dan lebar 10 meter. Jalan layang itu menjadi penghubung Jalan Tumaluntung di atas konstruksi Tol Manado-Bitung. Pada Selasa (17/4) pukul 13.58 Wita, pekerjaan pengecoran insitu pada salah satu slab tiba-tiba runtuh, di mana salah satu slab dengan spesifikasi dan metode kerja yang sama telah berhasil dibangun.
Pada peristiwa tersebut, sedikitnya dua pekerja yang meninggal dunia, serta puluhan lainnya mengalami luka berat dan ringan. PT Wika mengaku telah bekerja sama dengan Basarnas, Brimob, dan Kodim setempat untuk mengevakuasi korban.  Menurut PT Wika, ada 21 korban yang bekerja di lokasi, lima pekerja di antaranya telah mendapatkan perawatan dan sudah diizinkan pulang. Kemudian 14 orang mendapat perawatan inap untuk memastikan kesehatan yang bersangkutan. Sedangkan dua pekerja yang tertimbun masih mendapatkan pertolongan di lokasi.
Terhadap para pekerja yang jadi korban, WIKA akan bertanggung jawab penuh menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada masyarakat atas kejadian ini dan memastikan para korban mendapatkan penanganan terbaik. Selanjutnya, WIKA berkomitmen untuk memulihkan dan mengamankan lokasi serta menyelesaikan pekerjaan Jalan Tol Manado-Bitung dengan memperhatikan aspek safety, quality, dan time delivery sebagai prioritas dari Perseroan untuk berkontribusi pada percepatan pembangunan infrastruktur di Indonesia serta memastikan insiden ini tidak mempengaruhi target waktu penyelesaian mega proyek tersebut.
Dikutip dari Bisnis.com (edisi 01 Februari 2016), PT WIKA merupakan perusahaan plat merah yang berhasil melakukan transformasi berbasis sumber daya manusia. Perusahaan ini sudah tidak asing lagi di kancah industri konstruksi nasional dan internasional, bahkan merupakan badan usaha milik negara yang memiliki kinerja yang cukup mengesankan sejak go public pada tahun 2007.  
Wika mengalami banyak perubahan dan tumbuh pesat dari berbagai aspek, mulai dari kinerja finansial maupun non-finansialnya, memiliki keunggulan Sumber Daya Manusia (SDM) dan leadership yang kuat. Oleh karena itu, bisnis WIKA tumbuh tinggi, rata-rata di atas 20% per tahun dan meluas ke berbagai bidang bisnis baru serta beroperasi di pasar internasional. Hingga tahun 2016, WIKA telah memantapkan eksistensi di lima negara.
Berdasarkan pantauan CNNIndonesia.com –yang kemudian dipublis terbuka pada edisi Kamis, 23 Februari 2017— PT WIKA adalah perusahaan plat merah yang berhasil memimpin kinerja dari segi laba bersih. Pertumbuhan laba bersih Wijaya Karya tercatat 161,88 persen menjadi Rp1,01 triliun. Menurut analis Mandiri Sekuritas Gerry Harlan, WIKA berhasil memimpin tiga emiten lainnya jika dilihat berdasarkan pendapatan usaha sehingga mencetak pertumbuhan pendapatan hingga 68 persen dibanding perusahaan plat merah lainnya seperti Waskita Karya dan Adhi Karya.
Simpulannya, WIKA telah jauh berubah dari semula yang hanya sebagai perusahaan instalatur listrik dan pipa air, menjadi perusahaan jasa konstruksi dan investasi yang disegani. Saat ini WIKA memiliki lima pilar usaha, yakni bidang industri, infrastruktur dan gedung, energi dan industrial plant, realti dan properti, serta investasi.
Apakah peristiwa runtuhnya konstruksi jalan layang pada mega proyek Jalan Tol Manado-Bitung merupakan titik hitam yang akan mencoreng ‘kiprah putih’ PT WIKA? Apakah peristiwa runtuhnya kontruksi jalan layang pada mega proyek Jalan Tol Manado-Bitung, pada akhirnya merulakan suatu peringatan dini dan akan mengendorkan tekad PT WIKA pada 2020 mendatang untuk menjadi salah satu perusahaan engineering, procurement and construction (EPC) dan investasi terbaik di Asia Tenggara?
Tidak juga. Peristiwa runtuhnya kontruksi jalan layang pada mega proyek Jalan Tol Manado-Bitung adalah ‘proyek kecil’ dan merupakan salah satu dari banyak proyek besar dari lima pilar usaha PT WIKA. Jadi, peristiwa itu hanya titik kecil, bukan noda hitam bagi kiprah putih PT WIKA. Apalagi akan menjadi penghalang bagi perusahaan ini untuk menjadi perusahaan terbaik di Asia Tenggara (atau pun Asia sekalipun).
Meski demikian, peristiwa runtuhnya konstruksi jalan layang di Manado yang sedang dikerjakan PT WIKA, menjadi tandas awas. Peristiwa tersebut terjadi di lapangan, bukan secara internal terkait masalah SDM, yang kondisinya dapat dimanipulasi ketika menyampaikan narasi laporan pada rapat para petinggi dengan pemerintah.
Ketika peristiwa ini terjadi di depan mata publik, setidaknya membuat masyarakat untuk mulai mengubah imej terhadap capaian kinerja usaha, kemapanan SDM, dan target yang sudah dikumandangkan komisaris dan direksi; bahwa perusahaan plat merah ini, setidaknya saat ini lebih afdol memburu nilai laba tinimbang memelihara kemapanan safety pekerja. Tetapi, moga-moga tesis ini bukan sebuah praduga yang mengarah pada antitesis, bahwa PT WIKA mulai beringsut luruh sebelum mencapai target yang dipasang!(Alfeyn Gilingan, pemerhati masalah pembangun, sosial, dan kemasyarakatan di Sulawesi Utara/*)

Senin, 09 April 2018

Investasi di Sulut Terus Meningkat

JUMAT, 6 April 2018, Gubernur Olly Dondokambey, SE, menyampaikan Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Tahun Anggaran (TA) 2017 di hadapan pimpinan dan anggota DPRD Sulut, turut hadir pada rapat paripurna Wakil Gubernur Drs. Steven O. E. Kandouw, Kapolda Irjen Pol Bambang Waskito, Kajati Roskanedi SH, MH dan para pejabat Pemprov Sulut.
Pada Jumat siang itulah terungkap bahwa investasi PMA (Penanaman Modal Asing) mengalami peningkatkan yang signifikan. Tahun 2017, investasi PMA dan PMDN bertengger pada angka Rp 7,9 Triliun. Angka yang memang spektakuler, sebab pada RPJMD sebanyak 346 proyek dengan nilai target hanya sebesar Rp 2,5 Triliun. Dengan demikian, kelipatannya mencapai 317,44% dari target yang ditetapkan.
Lebih menggembirakan, optimalisasi potensi pengelolaan Pendapatan Asli Daerah (PAD) pada tahun 2017 mampu dilakukan pemerintah provinsi Sulut. Tahun 2017 PAD mencapai Rp 1,4 Triliun, meningkat cukup baik dari tahun 2016 yang mencapai angka Rp 981 Milyar. Tahun-tahun mendatang, sejumlah potensi PAD masih dapat dioptimalkan sebab pada tahun 2017 optimalisasi tertuju pada kebijakan intensifikasi dan ekstensifikasi.
Maka sampai tahun 2017, kinerja pemerintah provinsi Sulut yang dinakhodai Gubernur Olly Dondokambey, SE, dan damping Wakil Gubernur Drs Drs. Steven O. E Kandouw benar-benar mengalami peningkatan progresif di berbagai bidang. Capaian itu, sudah tentu, tidak lepas dari peran serta para pimpinan dan staf seluruh Satuan Kerja Pemerintah Daerah (SKPD) serta berbagai elemen mitra kerja, termasuk kesertaan peran masyarakat Sulawesi Utara.
Pada kesempatan LKPJ tersebut, Gubernur Olly Dondokambey, SE, juga secara terbuka menyampaikan bahwa Sulut memperoleh dana perimbangan sebesar Rp 2.5 Triliun dan lain-lain pendapatan daerah yang sah sebesar Rp 77 Milyar sehingga secara keseluruhan total pendapatan daerah sebesar Rp 3,731 Triliun lebih.
Sejak awal memimpin Sulut, Gubernur Olly Dondokambey, SE, melakukan gebrakan pengelolaan potensi di bidang pariwisata yang di dalamnya mencakup perkembangan sarana penunjang pariwisata seperti hotel dan kuliner. Pada LKPJ kali ini, Gubernur Olly juga menyampaikan bahwa tahun 2017 telah dilakukan pengembangan pariwisata, termasuk promosi ke mancanegara dan keikutsertaan dalam berbagai pameran promosi, yang berdampak pada meningkatnya jumlah wisatawan mancanegara. Hingga tahun 2017, wisatawan mancanegara mencapai 86.000 orang, sedangkan wisatawan nusantara berjumlah 1.698.523 orang.
Bertumbuhnya investasi PMA dan PMDN di Sulut, dominan berada pada sektor pariwisata. Investasi bidang pariwisata mengalami kenaikan signifikan dari Rp 4,5 Triliun di tahun 2016, naik menjadi Rp 6 Triliun di tahun 2017. Pertumbuhan investasi ini berimbas pada peningkatan ekonomi. Oleh sebab itu, perekonomian Sulut tahun 2017 tumbuh sebesar 6,32 %, dengan kata lain meningkat sebesar 0,15 % dari tahun 2016 yang berada pada poin 6,17 %.
Sementara itu, kuantitas masyarakat miskin di Sulut mengalami penurunan. Dalam bahasa pemerintah, angka kemiskinan turun karena mampu ditekan sebesar 0,3 % dari angka 8,20 % pada tahun 2016 menjadi 7,9 % di tahun 2017. Begitu juga dengan jumlah masyarakat produktif yang tidak punya pekerjaan; bahwa angka pengangguran Sulut sebesar 6,20 % di tahun 2016 berkurang menjadi 6,18 % pada tahun 2017. Untuk inflasi, turun dari 3,31% di tahun 2016, menjadi 2,44% di tahun 2017.
Adapun pada bidang pendidikan, Gubernur Olly Dondokambey,SE, secara terbuka menyebut berbagai kemajuan dan prestasi yang telah dicapai. Mulai dari Angka Partisipasi Kasar (APK), untuk SD 106,09 %, SMP 106.93 % dan SMA 88,22 %. Angka Partisipasi Murni (APM) pada SD 89,93 %, SMP 76,19 %  dan SMA 61,97 %. Lalu Angka Partisipasi Sekolah (APS) usia 7-12 tahun sebesar 98,12 %, usia 13-15 tahun sebesar 88,50 % dan usia 16-18 tahun sebesar 68,52 %.
Begitu pula dengan angka putus sekolah, tingkat SD 0,13 %, SMP 0,37 % dan SMA 0,08 % serta SMK 0,40 %. Angka Melek Huruf 99,63 %, dengan ungkapan lain bahwa pemerintah Sulut telah mampu menekan angka buta huruf hingga titik 0,37 %, dengan kontribusi rata-rata bersekolah mencapai 9,09 tahun dan tingkat kelulusan untuk SD mencapai 100% kelulusan, SMP 99,99 %, SMA 99.97 %, SMK 99,96 %.        
Peningkatan terjadi juga pada kualitas kesehatan masyarakat Sulut. Dalam capaian kinerja pemerintah provinsi, Angka Harapan Hidup (AHH) meningkat hingga mencapai 71.02 tahun. Jumlah kasus gizi buruk dari 40 kasus di tahun 2016, turun drastis hingga 25 kasus di tahun 2017 (berkurang 38 %).
Terhadap kasus gizi buruk itu, telah dilakukan perawatan mencapai 100 %, sedangkan Angka Kematian Ibu (AKI) menurun dari 54 kasus di tahun 2016 menjadi 36 kasus di tahun 2017, angka kematian bayi juga menurun dari 250 kasus pada tahun 2016, menjadi 161 kasus di tahun 2017.(alfeyn gilingan/*)

Selasa, 03 April 2018

Bawontehu ke Manado Tua, Lalu Manado


      Tetapi dari perspektif mana pada mulanya kita hendak menelusuri jejak jalinan kisah kehadiran Manado? Tentunya harus dimulai dari perspektif pe-ngisahan kehadiran kerajaan Bawontehu, kemudian berlanjut pada kisah pu-lau Manado Tua hingga saat ini. Kecuali Jepang yang paling akhir telah memorak-morandakan kota kecil ini, Portugis, Spanyol, dan Belanda telah menghadirkan narasi dari perspektif masing-masing mengenai Manado Tua dan Manado.
Alih-alih sebutan nama Bawontehu menjadi Manado (Tua), memang be-lum dapat ditegaskan secara lebih memadai dan pasti berdasarkan hasil pe-nelitian yang paling baru pada kesempatan ini. Tetapi hadirnya sebutan Ma-nado Tua[1] dan Manado sangat jelas dimulai pada awal abad ke-16. Tahun 1623[2]. Portugis disebut-sebut telah menggunakan istilah nama Manado se-cara formal pada dokumen administratif yang diterbitkan di lingkungan pe-merintahan waktu itu.
Hal tersebut merupakan indikasi kuat, bahwa sebelumnya sebutan atau nama Manado sudah kerap digunakan oleh penduduk Bawontehu dan seki-tarnya sebagai Manado Tua di Bawontehu, dan Manado berada di wilayah daratan dimana sudah ada pemukiman baru yang (didirikan dan) berdiri. H. B.Palar penuh percaya diri menulis, bahwa nama Manado Tua dan Manado mulai berkembang tahun 1520 melalui korespondensi padri-padri Spanyol setelah berhasil mendarat di daratan Tumpahan Wenang setelah diantar oleh orang-orang Bawongtehu[3].
Pemukiman baru yang berdekatan dengan Wenang itu mereka namakan Sidola dan saat ini dikenal dengan nama Sindulang. Jadi, nama Manado semula berlokasi di pulau itu lalu dibawa serta berpindah dan menjadi nama pemukiman yang lebih luas di wilayah daratan[4], sehingga kemudian nama pulau disebut Manado Tua. Artinya, ada dinamika peradaban yang mendo-rong lahirnya konsensus lisan segenap masyarakat yang mendiami negeri Bawontehu dan berikatan dengan Wenang serta perkampungan lain di seki-tarnya pada waktu itu sudah ada, sesungguhnya telah menyebut bahwa di sana: Manado Tua, dan di sini: Manado; bahwa Manado Tua adalah sebutan atau nama bagi sebuah pulau yang awalnya bernama Masinggalrotang dan dikenal sebagai pusat Kerajaan Bawontehu, sedangkan Manado adalah se-butan atau nama bagi sebuah wilayah yang lebih besar dan kemudian terdiri dari banyak perkampungan seperti Sindulang, Singkil, Wenang, Ares, dan sebagainya karena waktu itu belum ada se-Mahasa atau Minahasa.
Oleh karena itu, pernyataan Paul Richard Renwarin[5] patut diapersiasi secara objektif. Renwarin mengatakan Manado Tua dan juga pulau-pulau sekitarnya bukan bagian (dari budaya) Minahasa karena penduduk di sana umumnya bekerja menangkap ikan, sebagai nelayan. Tetapi Bert Supit[6] bertolak belakang membuat deskripsi mengenai (muasal orang) Manado Tua yang pada zaman purba dikenal sebagai pusat kerajaan Bawontehu itu. Mungkin dalam kategori teritori, Supit memasukan Manado (Tua) dan pulau-pulau sekitarnya sebagai bagian tanah Minahasa.
Pendapat Supit juga diikuti oleh Jessy Wenas[7]. Mungkin yang dimaksud Supit dan Wenas adalah dalam perspektif sebagai wilayah atau teritori administrasi pemerintahan. Dugaan kedua penulis ini ada benarnya, tetapi sayangnya tidak menyebut entah wilayah tertentu yang mana hendak di-maksud. Waworuntu tidak menyebut dengan terang dan jelas sehingga ti-dak ideal dijadikan rujukan sepenuh-penuhnya. Sedangkan A. L. Waworuntu (1891, juga dikutip H. B Palar, 2009) yang mengutip beberapa pendapat terdahulu mengatakan soal asal-usul orang dari kaum Bawontehu, adalah para pelarian dari wilayah tertentu yang datang ber-sembunyi.
Sekali lagi, sebetulnya Kerajaan Bawontehu layak masuk dalam kategori sebagai salah satu kerajaan tua di Nusantara. Oleh karena terletak di wila-yah timur nusantara, waktu itu belum ada budaya tulis dan sejauh ini tidak ada dokumen khusus, keberadaan kerajaan ini semakin terlupakan. Ada yang menyebut, kerajaan ini sempat disebut Kerajaan Manado[8] dan per-nah diambil alih oleh Raja Bolaang Mongondow, Laloda Mokoagow. Namun Ahmad Saramat[9] (alm) yang berasal dari Pulau Hitu-Tidore, menu-turkan bahwa sebetulnya Raja Laloda Mokoagow tidak pernah menguasai Kerajaan Bawontehu dalam arti menaklukannya melalui ekspansi peperangan, apa-lagi berbentuk tirani. Meskipun riwayat ini mengandung kebenaran, dan pengambilalihan Kerajaan Bawontehu oleh Raja Laloda Mokoagow yang punya enam belas isteri tersebut, ketika itu sudah disebut sebagai Kerajaan Ma-nado.
Bahwasanya, Bawongtehu-Borgo-Manado dan masyarakatnya sejak awal kehadiran, telah membangun adab maritim-agraris yang kuat dan sampai saat ini tetap diteruskan oleh para generasi yang mewarisinya. Maka sejak awal Manado memiliki potensi khas dan tilas kisah yang unik dan unggul. Terlepas dari fakta yang sudah dikisahkan oleh sejumlah penulis dan telah disinggung di atas, fakta utama dan menjadi pegangan primer bahwa saat ini ada pulau yang menjulang tinggi di hadapan Manado di wilayah daratan yang bernama Manado Tua.
Artinya, Manado yang sekarang di wilayah daratan adalah Manado ‘kate-gori baru’; bahwa sesungguhnya Manado dulunya berada di pulau Manado Tua yang semula dikenal sebagai Bawontehu, dan Manado yang dulu itu di kemudian hari sudah menjadi Manado ‘yang lama’, yakni sampai sekarang disebut Manado Tua. Sayangnya, Manado yang baru itu, kini panoramanya sudah jauh berbeda dengan yang dulu. Tidak ada lagi pasir putih yang ter-hampar, yang ada adalah jejeran bangunan, mulai dari rumah tinggal, ru-mah toko dan gedung bertingkat yang terus bertambah setiap tahun. Jum-lah bangunan dengan berbagai ukuran bertambah banyak, mulai dari pesisir hingga mencapai puncak gunung. Pesisir pantai sudah ditimbun, telah ber-diri rumah toko, mal dan hotel mewah. Tidak ada lagi tempat sandar perahu bagi nelayan tradisional.
Jadi, lokasi Manado mula-mula ada di Manado Tua, dan nama ini ke-mudian dibawa serta oleh kaum Bawontehu di Manado Tua yang eksodus ke wilayah daratan di sekitar Tumpahan Wenang dengan alasan beragam dan tertentu. Mereka kemudian membangun perkampungan Sindulang di bagian utara sekitar wilayah pelabuhan, sementara orang-orang Tombulu yang tu-run dari atas gunung telah lebih dulu ada dan menghadirkan negeri We-nang. Disebut-sebut bahwa waktu itu sebagian besar dari orang Tombulu bekerja membuat garam di tepi pantai[10].
Pada pertengahan tahun 1500-an istilah nama Manado sudah disebut-sebut oleh sejumlah antropolog dan kartograf barat. Tetapi dokumen-doku-men berupa peta yang dibuat para kartograf, juga tidak luput dari pelbagai tafsir. Beberapa kartograf dan antropolog itu pada prinsipnya menempatkan Manado pada konteks yang tidak lebih obyektif, yang sangat mungkin dise-babkan oleh kondisi waktu itu. Narasi-narasi itu berupa penggalan kisah amatan yang kemudian dikutip lagi oleh penulis berikutnya ketika membuat publikasi baru tentang kisah keha-diran Manado.(*/alfeyn gilingan/3)


[1]     Manado Tua terletak di Pulau Manado Tua, dulu bagian dari Kabupaten Minahasa tetapi sekarang ini sebagai wilayah teritori Kota Manado.Manado Tua terdiri dari 12 dusun, tercakup dalam dua kelurahan, yaitu Kelurahan Manado Tua Satu dan Kelurahan Manado Tua Dua.
[2]   Tahun ini kemudian menjadi rujukan utama bagi DPRD-GR Kotamadya Manado dalam menetapkan mulai berdiri Kota Manado dan sampai saat ini masih tetap digunakan sebagai patokan peringatan ulang tahun.
[3]   Jelasnya, dalam Wajah Lama Minahasa, 2009, hal 168, H. B. Palar menulis seperti ini..‘’Sekitar tahun 1520-an, serombongan pelaut Spanyol yang merupakan sebahagian armada mendiang Laksamana Magelhaens berlabuh di sebuah tempat lebih ke utara dari Tumpahan Wenang (itu diperkirakan di pantai Kima Bajo). Orang-orang Babontehu telah mengantar pelaut-pelaut itu di Tumpahan Wenang. Lalu tempat yang mulanya bernama Wenang mulai disebut Manado. Pemakaian nama itu berkembang terus terutama melalui korespondensi paderi-paderi Spanyol maupun antar komandan pasukan dengan komandan mereka di pos-pos induk. Proses itu berlaku terus dan lama, sehingga Wenang secara permanen menjadi Manado, sedangkan Manado yang asli selanjutnya hanya dikenal lagi sebagai Manado Tua atau bekas Manado ataupun Manado Ure’’.
[4]     Namun tidak diperoleh informasi dari orang-orang tua di Manado Tua maupun di Sindulang saat ini bahwa sebutan nama Manado merupakan consensus bersama penduduk Manado pada waktu itu sebagai pengganti nama Wenang sebagaimana yang dimaksud H. B Palar. Yang ada ialah penjelasan Robertus Padtbrugge, 1679, Beschrijving Der Zeden En Gewoonten Van De Bewoners Der Minahasa, hal. 3-6.
[5]   Dalam Matuari wo Tonaas, Jilid I Mawanua (Manado: Cahaya Pineleng, 2009).
[6]   Dapat dibaca lebih lengkap dalam buku kecil berjudul Porvinsi Minahasa – Sutau Wacana Pemberdayaan Daerah dan Rakyat Melalui Reformasi Struktur Pemerintahan Daerah Menuju Indonesia Baru. Manado, Sulawesi Utara, 2001.
[7]   Budayawan dan seniman (pencipta lagu) asal Minahasa dan saat ini sudah lama berdomisili di Jakarta, penulis buku Kebudayaan Minahasa, 2001.
[8]     Ada yang mengakui dan tidak sedikit yang mengatakan bahwa Kerajaan Manado itulah Kerajaan Bawontehu atau Kerajaan Manado Tua.
[9]   Dikisahkan langsung kepada penulis waktu bertemu pada tahun 2010 di pusat kota Manado, beliau waktu itu masih tercatat sebagai dosen di Universitas Manado (Unima, dulunya IKIP Manado).
[10] H. B. Palar, Wajah Lama Minahasa (Manado: Yayasan Gibbon Indonesia, 2009), hal 222 menulis seperti begini…’’Tetapi berseberangan kearah barat terdapat sebuah pulau yang bernama Manarow atau Manado yang kini disebut sebagai pulau Manado Tua’’.

Masinggalrotang, Lalu (Kerajaan) Bawontehu


     Para penulis asing agak kurang menyebut nama pulau Manado Tua da-lam berbagai karya mereka. Lagi pula sangat minim tercantum dalam doku-men milik Portugis/Spanyol dan Belanda. Namun pulau yang menjulang tinggi berpayung langit itu nyata-nyata menyimpan kisah tentang kehadiran Manado.
Pulau Manado Tua, ketika untuk pertama kalinya hadir pada kitaran awal abad ke-12 memiliki nama kuno dan khas, Masinggalrotang, yaitu tempat bermukim para kaum yang mendirikan Kerajaan[1] Bawontehu (disebut Ba-bontehu oleh sejumlah penulis sejarah Minahasa). Nama atau sebutan Masinggalro-tang bagi pulau Manado Tua tidak umum dikenal, termasuk kisah kehadiran penduduk di pulau ini. Seterusnya, tidak ada catatan atau uraian khusus mengenai arti dari istilah Masinggalrotang.
Sebutan Masinggalrotang sebagai nama pulau Manado Tua hanya berla-ku pada masa awal saat pertama kali leluhur Bawontehu, yaitu Mokodolu-dug dan pengikutnya tiba. Dikemudian hari, tidak pernah lagi disebut-sebut nama Masinggalrotang. Setelah membuka lahan dan membangun perkam-pungan, Bawontehu, nama negeri yang dulunya ditinggalkan itu disemat lagi oleh Mokodoludug bersama penduduk waktu itu dan nama ini menjadi ba-gian dari sejarah hari ini.
Artinya, sebutan Masinggalrotang hanya berlaku untuk nama pulau itu disaat Mokodoludug dan pengikutnya tiba hingga beberapa saat kemudian. Sedangkan sebutan Bawontehu, berlaku sebagai sebutan atau nama per-kampungan yang mereka dirikan. Sederhananya, negeri Bawontehu baru yang didirikan oleh Makodoludug dan para pengikutnya itu terletak atau ber-ada di pulau Masinggalrotang. Bawontehu adalah perkampungan baru di pu-lau yang tidak begitu besar itu.
Setelah penduduk bertambah banyak dan perkampungan itu menjadi besar, status Bawontehu ditingkatkan dan dianggap sebagai sebuah keraja-an. Pemimpin utama disebut kulrano atau disamakan dengan raja, memiliki tata pemerintahan yang sederhana dan jelas. Semua penduduk hidup saling me-nopang, semuanya patuh pada perintah dan titah kulrano.
Memang sejauh ini, belum ada penjelasan yang mendalam mengenai kondisi dan perkembangan detil mengenai kedigdayaan Kerajaan Bawon-tehu yang, konon disebut-sebut, memiliki wilayah cukup luas dan punya ar-mada perang yang besar. Oleh karenanya, Ferry Raymond Mawikere[2] me-nyebut kerajaan-kerajaan yang bermitra dengan kolonial, diantaranya ada Kerajaan Bawontehu. Dengan demikian, Kerajaan Bawontehu adalah sebuah union yang dapat dianggap sejajar dengan, misalnya, kerajaan Ternate hingga tahun 1614.
Jadi pada masa itu, pemimpin dan masyarakat Kerajaan Bawontehu su-dah membangun hubungan kekerabatan dengan pemerintah dan penduduk di wilayah lain, termasuk juga dengan penduduk Wenang, Ternate, Tidore, dan juga kemudian secara khusus dengan kerajaan Siau. Seiring dengan berjalannya waktu di kemudian hari, nama Bawontehu sudah mulai tidak di-sebut lagi karena hadir dan mulai sering digunakan nama Manado.
Di masa-masa selanjutnya, kapal-kapal Spanyol dan Portugis yang da-tang, turut berlabuh di pulau ini. Oleh karena itu, pulau Manado Tua sebagai pusat kerjaan Bawontehu pernah menjadi base camp Portugis dan Spanyol sebelum masuk ke wilayah daratan di sekitar Wenang. Bahkan oleh Belanda pada masa awal ketika menggantikan posisi Portugis dan Spanyol, walaupun pada waktu itu Belanda langsung menetakkan kakinya di wilayah daratan (Manado baru, yang sekarang).(*/alfeyn gilingan/2)


[1]   Istiah ‘kerajaan’ pertama kali digunakan oleh orang-orng Cina dengan anggapan bahwa semua entitas politik di dunia yang telah dikenal (Cina) akan memperlihatkan ciri-ciri kepemerintahan yang serupa dengan mereka, namun secara alami kurang berkembang daripada yang telah ada di Kekaisaraan Cina. Paul Michael Munoz, Early Kingdoms of the Indonesia Archipelago and the Malay Peninsula, Terjemahan: Kerajaan-Kerajaan Awal Kepulauan Indonesia dan Semenanjung Malaysia - Perkembangan Sejarah dan Budaya Asia Tenggara (Jaman Pra Sejarah - Abad XVI), oleh Tim Media Mitra Abadi, 2009, hal 93.
[2]   Dalam tulisan berjudul Minahasa dan Kolonialisme: Warisan Sejarah, Akselerasi Perubahan, dan Dinamika Hubungan Sampai Akhir Abad ke-19, tulisan kedua dalam buku Etnik Minahasa Dalam Akselerasi Perubahaan – Telaah Historis Teologis Antropologis (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2002), hal 110, Mawikeke menyentil Kerajaan Bolaang kala itu disebut juga Babontehu, berlokasi di pulau Manado Tua (sekitar 15 mil barat daya Ma-nado).

Negeri Bawontehu, Legenda Hidup


Pulau Manado Tua masih tetap seperti dulu, sebuah gunung yang menjulang tinggi dan dari kejauhan tampak hijau tua; dari jauh kelihatan ter-apung di atas laut. Pulau ini awalnya oleh orang-orang Tombulu disebut wawo un tewuh. Sekilas, tidak ada gambaran bahwa dari pulau itulah cikal-bakal Manado yang sekarang. Banyak yang tidak tahu persis bahwa gunung nan sedap dipandang mata tersebut menyimpan kisah menarik, bak cerita penuh romantika mengenai keha-diran Manado.

Manado Tua, sesungguhnya bukan saja menyimpan cerita romantisme para penduduknya yang mula-mula berdinamika dalam pola hidup bahari agraris, tetapi pulau ini merupakan sebuah legenda hidup sampai hari ini. Selain kisah kehadiran Manado yang masih ‘tersimpan’, pulau kecil ini tidak lepas dari berbagai deskripsi terkait jalur pelayaran dunia pada masa lalu di wilayah utara Nusantara. Disebut-sebut bahwa di pulau inilah masyarakat mula-mula yang mendirikan Manado hidup dan berdomisili.

Telah terbetik salah satu kisah turun-temurun, bahwa pulau Manado Tua merupakan pusat negeri Bawontehu, sebuah kerajaan yang jauh sebe-lumnya pernah hadir di sebuah lokasi di sekitar wilayah Molibagu –dan ki-sahnya belum ditelusuri lebih jauh dan sedalam-dalamnya. Negeri Bawon-tehu yang mula-mula itu, dibangun dengan susah payah oleh Humansandu-lage dan Tendensehiwu setelah empat puluh hari empat puluh malam ber-sama sejumlah pengikutnya larut dalam duka lara ketika berhasil meloloskan diri dari perang di Cotabatu, Filipina Selatan.

Hemansandulage dan Tendensehiwu disebut-sebut adalah kakek dan nenek buyut Mokodoludug, suami dari Boki Baunia, perempuan cantik yang disebut-sebut keturunan khayangan. Mereka lolos dari kekejaman orang Mo-ngolia yang menyerang Negeri Cotabatu, di wilayah selatan Filipina. Mereka dibawa ke selatan oleh Dumalombang, seekor naga jelmaan dari papehe  Batahasulu . Batahasulu yang juga dikenal juga dengan nama Manderesulu adalah orang sakti di Negeri Cotabatu, memiliki benda sakti: lenso dan pa-porong selain papehe.

Pada usia yang cukup tua dan sudah lama menjadi pemimpin bergelar Kulrano , Humansandulage kemudian mengangkat putranya, Bidulangi, menjadi kulrano Negeri Bawontehu. Bidulangi memperisteri Putri Ting dari negeri khayangan, memiliki putri semata wayang bernama Toumatiti yang di kemudian hari menjadi ibu mertua Boki Baunia. Boki Baunia yang disunting menjadi isteri Mokodoludug, anak semata wayang Toumatiti, juga adalah putri khayangan. Sejak kecil Baunia dipelihara dengan penuh kasih sayang oleh pasangan suami-isteri, Sanaria dan Amaria.

Jadi, Mokodoludug adalah anak dari Toumatiti dan merupakan turunan keempat Kulano Humansandulage dan Boki Tendensehiwu. Dia di kemudian hari menjadi pewaris kerajaan, disemat jabatan kulrano, didaulat memimpin negeri Bawontehu atas keputusan bersama para tua-tua negeri dan segenap keluarga. Setelah Mokodoludug diangkat menjadi kulrano, Baunia sebagai isteri serta-merta berhak menyandang gelar Boki  atau permaisuri.

Negeri ini, pada tahun-tahun selanjutnya menjadi arena perang sau-dara yang saling merampas kedudukan. Situasi demikian pada masa itu dianggap biasa. Didukung oleh pihak-pihak yang ingin masuk dalam arena kekuasaan, sejumlah saudara dekat Mokodoludug memantik pemberon-takan. Bahkan mereka dianggap sebagai dalang pertikaian dan meletusnya peperangan dalam keluarga. Ada pihak-pihak yang hendak menyingkirkan Mokodoludug dari singgasana kepemimpinan. Ada keluarga yang berpihak dan membela Mokodoludug ditekan, dan pertikaian semakin menjadi-jadi. Itu sebabnya Baunia dan Mokodoludug sepakat dengan ikhlas meninggal-kan negeri Bawontahu.
Kulrano Mokodoludug dan Boki Baunia ditemani sejumlah pengikut me-ninggalkan negeri 

Bowontehu di Molibagu. Menyusuri perjalan yang sulit, akhirnya mereka tiba di daerah Balingbaling, suatu lokasi dekat pantai di wilayah Pasan, Bentenan. Kemudian mereka pindah lagi ke suatu tempat, sebuah dataran rendah yang tanahnya ditumbuhi banyak pohon. Tempat itu masih di sebelah timur deretan gunung Wulur Mahatus, yang akhirnya me-reka beri nama Pasolo –yang kemudian hari dikenal dengan nama Pulau Lembeh.

Singkat kisah, kehidupan di pulau Pasolo tidak nyaman lagi sebab perompak sewaktu-waktu datang mengganggu. Rencana Mokodoludug untuk segera pindah disetujui isterinya, Baunia –yang saat itu sedang mengan-dung anak pertama. Beberapa lama setelah Lokong Banua lahir, Kulrano Mokodoludug dan Boki Baunia bersama pengikutnya pindah lagi, lalu tiba di sebuah pulau yang menjulang tinggi, yang dari jauh kelihatan seperti meng-apung di atas air.

Disebut belum dihuni oleh manusia, pantai bagian utara pulau ini dise-kat oleh jejeran batu-batu hitam yang membentuk tanjung dan menjorok ke laut. Hamparan batu-batuan hitam itu sangat eksotis, seperti ditata oleh tangan keindahan alam. Pantainya berpasir halus, putih berpadu hitam. Banyak pohon ketapang tumbuh dengan rimbun. Bukit-bukit kecil ditumbuhi ilalang dan bambu. Pinggang gunung dibungkus pohon-pohon besar yang subur. Lebih ke atas lagi, panggung gunung ditumbuhi hutan lebat. Kulrano Mokodolodug dan Boki Baunia bersama pengikutnya memutuskan untuk menetap di pulau ini. Kulrano Mokodludug memberi nama Masinggalrotang bagi pulau ini, sekarang pulau Manado Tua.(*/alfeyn gilingan/1)

Salam Bakudapa



Salam Bakudapa!

Blog ini saya, Alfeyn Gilingan, beri nama BeritaKITA, sebagai ruang dinamis yang saya buat untuk publikasi berbagai informasi mengenai artikel seni & budaya, sosial, politik dan kemasyarakatan, ekonomi, edukasi, religi, olahraga, dan pendagangan dan industry Sulawwesi Utara pada khususnya dan Indonesia pada umumnya. Ada juga informasi umum seputar dunia internasional.

Sudah tentu, informasi (maupun data-data dan foto/gambar) yang terpublis pada blog saya memiliki jaminan keakurasian, sudah melewati proses editing sehingga dapat dimanfaatkan untuk memperkaya khasanah pengetahuan masyaraakt pembaca.

Jika pembaca memiliki informasi tambahan, baik berupa data/foto/informasi mentah, dapat menambahkannya pada informasi yang sudah saya publis dengan cara mengirimnya ke email: aspihrasi.manado@gmail.com. Informasi atau data/foto tambahan yang dikirim menjadi tambahan atau untuk melengkapi artikel-artikel yang sudah saya informasikan atau publikasikan secara terbuka itu, menjadi milik blog ini sebagai bagian yang tidak dapat dipisahkan untuk pertanggungjawaban keakurasian informasi setiap artikel.

Demikian dapat disampaikan, terima kasih atas dukungan dan kerja sama yang sudah terbangun. Selamat membaca!

Publisher,
Alfeyn Gilingan