Para penulis asing agak kurang menyebut nama pulau Manado Tua da-lam berbagai karya mereka. Lagi pula sangat minim tercantum dalam doku-men milik Portugis/Spanyol dan Belanda. Namun pulau yang menjulang tinggi berpayung langit itu nyata-nyata menyimpan kisah tentang kehadiran Manado.
Pulau Manado Tua, ketika untuk pertama kalinya hadir pada kitaran awal abad
ke-12 memiliki nama kuno dan khas, Masinggalrotang, yaitu tempat
bermukim para kaum yang mendirikan Kerajaan[1]
Bawontehu (disebut Ba-bontehu oleh sejumlah penulis sejarah Minahasa). Nama
atau sebutan Masinggalro-tang bagi pulau Manado Tua tidak umum
dikenal, termasuk kisah kehadiran penduduk di pulau ini. Seterusnya, tidak ada
catatan atau uraian khusus mengenai arti dari istilah Masinggalrotang.
Sebutan Masinggalrotang sebagai nama pulau Manado Tua hanya
berla-ku pada masa awal saat pertama kali leluhur Bawontehu, yaitu Mokodolu-dug
dan pengikutnya tiba. Dikemudian hari, tidak pernah lagi disebut-sebut nama
Masinggalrotang. Setelah membuka lahan dan membangun perkam-pungan, Bawontehu,
nama negeri yang dulunya ditinggalkan itu disemat lagi oleh Mokodoludug bersama
penduduk waktu itu dan nama ini menjadi ba-gian dari sejarah hari ini.
Artinya, sebutan Masinggalrotang hanya berlaku untuk nama pulau
itu disaat Mokodoludug dan pengikutnya tiba hingga beberapa saat kemudian.
Sedangkan sebutan Bawontehu, berlaku sebagai sebutan atau nama per-kampungan
yang mereka dirikan. Sederhananya, negeri Bawontehu baru yang didirikan oleh
Makodoludug dan para pengikutnya itu terletak atau ber-ada di pulau Masinggalrotang.
Bawontehu adalah perkampungan baru di pu-lau yang tidak begitu besar itu.
Setelah penduduk bertambah banyak dan perkampungan itu menjadi besar,
status Bawontehu ditingkatkan dan dianggap sebagai sebuah keraja-an. Pemimpin
utama disebut kulrano atau disamakan dengan raja, memiliki tata
pemerintahan yang sederhana dan jelas. Semua penduduk hidup saling me-nopang,
semuanya patuh pada perintah dan titah kulrano.
Memang sejauh ini, belum ada penjelasan yang mendalam mengenai kondisi dan
perkembangan detil mengenai kedigdayaan Kerajaan Bawon-tehu yang, konon
disebut-sebut, memiliki wilayah cukup luas dan punya ar-mada perang yang besar.
Oleh karenanya, Ferry Raymond Mawikere[2]
me-nyebut kerajaan-kerajaan yang bermitra dengan kolonial, diantaranya ada Kerajaan
Bawontehu. Dengan demikian, Kerajaan Bawontehu adalah sebuah union yang dapat
dianggap sejajar dengan, misalnya, kerajaan Ternate hingga tahun 1614.
Jadi pada masa itu, pemimpin dan masyarakat Kerajaan Bawontehu su-dah
membangun hubungan kekerabatan dengan pemerintah dan penduduk di wilayah lain, termasuk
juga dengan penduduk Wenang, Ternate, Tidore, dan juga kemudian secara khusus
dengan kerajaan Siau. Seiring dengan berjalannya waktu di kemudian hari, nama
Bawontehu sudah mulai tidak di-sebut lagi karena hadir dan mulai sering digunakan
nama Manado.
Di masa-masa selanjutnya, kapal-kapal Spanyol dan Portugis yang da-tang,
turut berlabuh di pulau ini. Oleh karena itu, pulau Manado Tua sebagai pusat
kerjaan Bawontehu pernah menjadi base
camp Portugis dan Spanyol sebelum masuk ke wilayah daratan di sekitar Wenang.
Bahkan oleh Belanda pada masa awal ketika menggantikan posisi Portugis dan
Spanyol, walaupun pada waktu itu Belanda langsung menetakkan kakinya di wilayah
daratan (Manado baru, yang sekarang).(*/alfeyn gilingan/2)
[1] Istiah ‘kerajaan’ pertama
kali digunakan oleh orang-orng Cina dengan anggapan bahwa semua entitas politik
di dunia yang telah dikenal (Cina) akan memperlihatkan ciri-ciri kepemerintahan
yang serupa dengan mereka, namun secara alami kurang berkembang daripada yang
telah ada di Kekaisaraan Cina. Paul Michael Munoz, Early Kingdoms of the
Indonesia Archipelago and the Malay Peninsula, Terjemahan: Kerajaan-Kerajaan
Awal Kepulauan Indonesia dan Semenanjung Malaysia - Perkembangan Sejarah dan
Budaya Asia Tenggara (Jaman Pra Sejarah - Abad XVI), oleh Tim Media Mitra
Abadi, 2009, hal 93.
[2] Dalam tulisan berjudul Minahasa dan
Kolonialisme: Warisan Sejarah, Akselerasi Perubahan, dan Dinamika Hubungan
Sampai Akhir Abad ke-19, tulisan kedua dalam buku Etnik Minahasa Dalam
Akselerasi Perubahaan – Telaah Historis Teologis Antropologis (Jakarta: Pustaka
Sinar Harapan, 2002), hal 110, Mawikeke menyentil Kerajaan Bolaang kala itu
disebut juga Babontehu, berlokasi di pulau Manado Tua (sekitar 15 mil barat
daya Ma-nado).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar