Selasa, 03 April 2018

Masinggalrotang, Lalu (Kerajaan) Bawontehu


     Para penulis asing agak kurang menyebut nama pulau Manado Tua da-lam berbagai karya mereka. Lagi pula sangat minim tercantum dalam doku-men milik Portugis/Spanyol dan Belanda. Namun pulau yang menjulang tinggi berpayung langit itu nyata-nyata menyimpan kisah tentang kehadiran Manado.
Pulau Manado Tua, ketika untuk pertama kalinya hadir pada kitaran awal abad ke-12 memiliki nama kuno dan khas, Masinggalrotang, yaitu tempat bermukim para kaum yang mendirikan Kerajaan[1] Bawontehu (disebut Ba-bontehu oleh sejumlah penulis sejarah Minahasa). Nama atau sebutan Masinggalro-tang bagi pulau Manado Tua tidak umum dikenal, termasuk kisah kehadiran penduduk di pulau ini. Seterusnya, tidak ada catatan atau uraian khusus mengenai arti dari istilah Masinggalrotang.
Sebutan Masinggalrotang sebagai nama pulau Manado Tua hanya berla-ku pada masa awal saat pertama kali leluhur Bawontehu, yaitu Mokodolu-dug dan pengikutnya tiba. Dikemudian hari, tidak pernah lagi disebut-sebut nama Masinggalrotang. Setelah membuka lahan dan membangun perkam-pungan, Bawontehu, nama negeri yang dulunya ditinggalkan itu disemat lagi oleh Mokodoludug bersama penduduk waktu itu dan nama ini menjadi ba-gian dari sejarah hari ini.
Artinya, sebutan Masinggalrotang hanya berlaku untuk nama pulau itu disaat Mokodoludug dan pengikutnya tiba hingga beberapa saat kemudian. Sedangkan sebutan Bawontehu, berlaku sebagai sebutan atau nama per-kampungan yang mereka dirikan. Sederhananya, negeri Bawontehu baru yang didirikan oleh Makodoludug dan para pengikutnya itu terletak atau ber-ada di pulau Masinggalrotang. Bawontehu adalah perkampungan baru di pu-lau yang tidak begitu besar itu.
Setelah penduduk bertambah banyak dan perkampungan itu menjadi besar, status Bawontehu ditingkatkan dan dianggap sebagai sebuah keraja-an. Pemimpin utama disebut kulrano atau disamakan dengan raja, memiliki tata pemerintahan yang sederhana dan jelas. Semua penduduk hidup saling me-nopang, semuanya patuh pada perintah dan titah kulrano.
Memang sejauh ini, belum ada penjelasan yang mendalam mengenai kondisi dan perkembangan detil mengenai kedigdayaan Kerajaan Bawon-tehu yang, konon disebut-sebut, memiliki wilayah cukup luas dan punya ar-mada perang yang besar. Oleh karenanya, Ferry Raymond Mawikere[2] me-nyebut kerajaan-kerajaan yang bermitra dengan kolonial, diantaranya ada Kerajaan Bawontehu. Dengan demikian, Kerajaan Bawontehu adalah sebuah union yang dapat dianggap sejajar dengan, misalnya, kerajaan Ternate hingga tahun 1614.
Jadi pada masa itu, pemimpin dan masyarakat Kerajaan Bawontehu su-dah membangun hubungan kekerabatan dengan pemerintah dan penduduk di wilayah lain, termasuk juga dengan penduduk Wenang, Ternate, Tidore, dan juga kemudian secara khusus dengan kerajaan Siau. Seiring dengan berjalannya waktu di kemudian hari, nama Bawontehu sudah mulai tidak di-sebut lagi karena hadir dan mulai sering digunakan nama Manado.
Di masa-masa selanjutnya, kapal-kapal Spanyol dan Portugis yang da-tang, turut berlabuh di pulau ini. Oleh karena itu, pulau Manado Tua sebagai pusat kerjaan Bawontehu pernah menjadi base camp Portugis dan Spanyol sebelum masuk ke wilayah daratan di sekitar Wenang. Bahkan oleh Belanda pada masa awal ketika menggantikan posisi Portugis dan Spanyol, walaupun pada waktu itu Belanda langsung menetakkan kakinya di wilayah daratan (Manado baru, yang sekarang).(*/alfeyn gilingan/2)


[1]   Istiah ‘kerajaan’ pertama kali digunakan oleh orang-orng Cina dengan anggapan bahwa semua entitas politik di dunia yang telah dikenal (Cina) akan memperlihatkan ciri-ciri kepemerintahan yang serupa dengan mereka, namun secara alami kurang berkembang daripada yang telah ada di Kekaisaraan Cina. Paul Michael Munoz, Early Kingdoms of the Indonesia Archipelago and the Malay Peninsula, Terjemahan: Kerajaan-Kerajaan Awal Kepulauan Indonesia dan Semenanjung Malaysia - Perkembangan Sejarah dan Budaya Asia Tenggara (Jaman Pra Sejarah - Abad XVI), oleh Tim Media Mitra Abadi, 2009, hal 93.
[2]   Dalam tulisan berjudul Minahasa dan Kolonialisme: Warisan Sejarah, Akselerasi Perubahan, dan Dinamika Hubungan Sampai Akhir Abad ke-19, tulisan kedua dalam buku Etnik Minahasa Dalam Akselerasi Perubahaan – Telaah Historis Teologis Antropologis (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2002), hal 110, Mawikeke menyentil Kerajaan Bolaang kala itu disebut juga Babontehu, berlokasi di pulau Manado Tua (sekitar 15 mil barat daya Ma-nado).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar