Selasa, 03 April 2018

Negeri Bawontehu, Legenda Hidup


Pulau Manado Tua masih tetap seperti dulu, sebuah gunung yang menjulang tinggi dan dari kejauhan tampak hijau tua; dari jauh kelihatan ter-apung di atas laut. Pulau ini awalnya oleh orang-orang Tombulu disebut wawo un tewuh. Sekilas, tidak ada gambaran bahwa dari pulau itulah cikal-bakal Manado yang sekarang. Banyak yang tidak tahu persis bahwa gunung nan sedap dipandang mata tersebut menyimpan kisah menarik, bak cerita penuh romantika mengenai keha-diran Manado.

Manado Tua, sesungguhnya bukan saja menyimpan cerita romantisme para penduduknya yang mula-mula berdinamika dalam pola hidup bahari agraris, tetapi pulau ini merupakan sebuah legenda hidup sampai hari ini. Selain kisah kehadiran Manado yang masih ‘tersimpan’, pulau kecil ini tidak lepas dari berbagai deskripsi terkait jalur pelayaran dunia pada masa lalu di wilayah utara Nusantara. Disebut-sebut bahwa di pulau inilah masyarakat mula-mula yang mendirikan Manado hidup dan berdomisili.

Telah terbetik salah satu kisah turun-temurun, bahwa pulau Manado Tua merupakan pusat negeri Bawontehu, sebuah kerajaan yang jauh sebe-lumnya pernah hadir di sebuah lokasi di sekitar wilayah Molibagu –dan ki-sahnya belum ditelusuri lebih jauh dan sedalam-dalamnya. Negeri Bawon-tehu yang mula-mula itu, dibangun dengan susah payah oleh Humansandu-lage dan Tendensehiwu setelah empat puluh hari empat puluh malam ber-sama sejumlah pengikutnya larut dalam duka lara ketika berhasil meloloskan diri dari perang di Cotabatu, Filipina Selatan.

Hemansandulage dan Tendensehiwu disebut-sebut adalah kakek dan nenek buyut Mokodoludug, suami dari Boki Baunia, perempuan cantik yang disebut-sebut keturunan khayangan. Mereka lolos dari kekejaman orang Mo-ngolia yang menyerang Negeri Cotabatu, di wilayah selatan Filipina. Mereka dibawa ke selatan oleh Dumalombang, seekor naga jelmaan dari papehe  Batahasulu . Batahasulu yang juga dikenal juga dengan nama Manderesulu adalah orang sakti di Negeri Cotabatu, memiliki benda sakti: lenso dan pa-porong selain papehe.

Pada usia yang cukup tua dan sudah lama menjadi pemimpin bergelar Kulrano , Humansandulage kemudian mengangkat putranya, Bidulangi, menjadi kulrano Negeri Bawontehu. Bidulangi memperisteri Putri Ting dari negeri khayangan, memiliki putri semata wayang bernama Toumatiti yang di kemudian hari menjadi ibu mertua Boki Baunia. Boki Baunia yang disunting menjadi isteri Mokodoludug, anak semata wayang Toumatiti, juga adalah putri khayangan. Sejak kecil Baunia dipelihara dengan penuh kasih sayang oleh pasangan suami-isteri, Sanaria dan Amaria.

Jadi, Mokodoludug adalah anak dari Toumatiti dan merupakan turunan keempat Kulano Humansandulage dan Boki Tendensehiwu. Dia di kemudian hari menjadi pewaris kerajaan, disemat jabatan kulrano, didaulat memimpin negeri Bawontehu atas keputusan bersama para tua-tua negeri dan segenap keluarga. Setelah Mokodoludug diangkat menjadi kulrano, Baunia sebagai isteri serta-merta berhak menyandang gelar Boki  atau permaisuri.

Negeri ini, pada tahun-tahun selanjutnya menjadi arena perang sau-dara yang saling merampas kedudukan. Situasi demikian pada masa itu dianggap biasa. Didukung oleh pihak-pihak yang ingin masuk dalam arena kekuasaan, sejumlah saudara dekat Mokodoludug memantik pemberon-takan. Bahkan mereka dianggap sebagai dalang pertikaian dan meletusnya peperangan dalam keluarga. Ada pihak-pihak yang hendak menyingkirkan Mokodoludug dari singgasana kepemimpinan. Ada keluarga yang berpihak dan membela Mokodoludug ditekan, dan pertikaian semakin menjadi-jadi. Itu sebabnya Baunia dan Mokodoludug sepakat dengan ikhlas meninggal-kan negeri Bawontahu.
Kulrano Mokodoludug dan Boki Baunia ditemani sejumlah pengikut me-ninggalkan negeri 

Bowontehu di Molibagu. Menyusuri perjalan yang sulit, akhirnya mereka tiba di daerah Balingbaling, suatu lokasi dekat pantai di wilayah Pasan, Bentenan. Kemudian mereka pindah lagi ke suatu tempat, sebuah dataran rendah yang tanahnya ditumbuhi banyak pohon. Tempat itu masih di sebelah timur deretan gunung Wulur Mahatus, yang akhirnya me-reka beri nama Pasolo –yang kemudian hari dikenal dengan nama Pulau Lembeh.

Singkat kisah, kehidupan di pulau Pasolo tidak nyaman lagi sebab perompak sewaktu-waktu datang mengganggu. Rencana Mokodoludug untuk segera pindah disetujui isterinya, Baunia –yang saat itu sedang mengan-dung anak pertama. Beberapa lama setelah Lokong Banua lahir, Kulrano Mokodoludug dan Boki Baunia bersama pengikutnya pindah lagi, lalu tiba di sebuah pulau yang menjulang tinggi, yang dari jauh kelihatan seperti meng-apung di atas air.

Disebut belum dihuni oleh manusia, pantai bagian utara pulau ini dise-kat oleh jejeran batu-batu hitam yang membentuk tanjung dan menjorok ke laut. Hamparan batu-batuan hitam itu sangat eksotis, seperti ditata oleh tangan keindahan alam. Pantainya berpasir halus, putih berpadu hitam. Banyak pohon ketapang tumbuh dengan rimbun. Bukit-bukit kecil ditumbuhi ilalang dan bambu. Pinggang gunung dibungkus pohon-pohon besar yang subur. Lebih ke atas lagi, panggung gunung ditumbuhi hutan lebat. Kulrano Mokodolodug dan Boki Baunia bersama pengikutnya memutuskan untuk menetap di pulau ini. Kulrano Mokodludug memberi nama Masinggalrotang bagi pulau ini, sekarang pulau Manado Tua.(*/alfeyn gilingan/1)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar