Pulau Manado Tua masih tetap seperti dulu, sebuah gunung yang menjulang tinggi dan dari kejauhan tampak hijau tua; dari jauh kelihatan ter-apung di atas laut. Pulau ini awalnya oleh orang-orang Tombulu disebut wawo un tewuh. Sekilas, tidak ada gambaran bahwa dari pulau itulah cikal-bakal Manado yang sekarang. Banyak yang tidak tahu persis bahwa gunung nan sedap dipandang mata tersebut menyimpan kisah menarik, bak cerita penuh romantika mengenai keha-diran Manado.
Manado Tua, sesungguhnya bukan saja menyimpan cerita
romantisme para penduduknya yang mula-mula berdinamika dalam pola hidup bahari
agraris, tetapi pulau ini merupakan sebuah legenda hidup sampai hari ini.
Selain kisah kehadiran Manado yang masih ‘tersimpan’, pulau kecil ini tidak
lepas dari berbagai deskripsi terkait jalur pelayaran dunia pada masa lalu di
wilayah utara Nusantara. Disebut-sebut bahwa di pulau inilah masyarakat
mula-mula yang mendirikan Manado hidup dan berdomisili.
Telah terbetik salah satu kisah turun-temurun, bahwa pulau
Manado Tua merupakan pusat negeri Bawontehu, sebuah kerajaan yang jauh
sebe-lumnya pernah hadir di sebuah lokasi di sekitar wilayah Molibagu –dan
ki-sahnya belum ditelusuri lebih jauh dan sedalam-dalamnya. Negeri Bawon-tehu
yang mula-mula itu, dibangun dengan susah payah oleh Humansandu-lage dan
Tendensehiwu setelah empat puluh hari empat puluh malam ber-sama sejumlah
pengikutnya larut dalam duka lara ketika berhasil meloloskan diri dari perang
di Cotabatu, Filipina Selatan.
Hemansandulage dan Tendensehiwu disebut-sebut adalah kakek
dan nenek buyut Mokodoludug, suami dari Boki Baunia, perempuan cantik yang
disebut-sebut keturunan khayangan. Mereka lolos dari kekejaman orang Mo-ngolia
yang menyerang Negeri Cotabatu, di wilayah selatan Filipina. Mereka dibawa ke
selatan oleh Dumalombang, seekor naga jelmaan dari papehe Batahasulu . Batahasulu yang juga dikenal
juga dengan nama Manderesulu adalah orang sakti di Negeri Cotabatu, memiliki
benda sakti: lenso dan pa-porong selain papehe.
Pada usia yang cukup tua dan sudah lama menjadi pemimpin
bergelar Kulrano , Humansandulage kemudian mengangkat putranya, Bidulangi,
menjadi kulrano Negeri Bawontehu. Bidulangi memperisteri Putri Ting dari negeri
khayangan, memiliki putri semata wayang bernama Toumatiti yang di kemudian hari
menjadi ibu mertua Boki Baunia. Boki Baunia yang disunting menjadi isteri
Mokodoludug, anak semata wayang Toumatiti, juga adalah putri khayangan. Sejak
kecil Baunia dipelihara dengan penuh kasih sayang oleh pasangan suami-isteri,
Sanaria dan Amaria.
Jadi, Mokodoludug adalah anak dari Toumatiti dan merupakan
turunan keempat Kulano Humansandulage dan Boki Tendensehiwu. Dia di kemudian
hari menjadi pewaris kerajaan, disemat jabatan kulrano, didaulat memimpin
negeri Bawontehu atas keputusan bersama para tua-tua negeri dan segenap
keluarga. Setelah Mokodoludug diangkat menjadi kulrano, Baunia sebagai isteri
serta-merta berhak menyandang gelar Boki
atau permaisuri.
Negeri ini, pada tahun-tahun selanjutnya menjadi arena
perang sau-dara yang saling merampas kedudukan. Situasi demikian pada masa itu
dianggap biasa. Didukung oleh pihak-pihak yang ingin masuk dalam arena
kekuasaan, sejumlah saudara dekat Mokodoludug memantik pemberon-takan. Bahkan
mereka dianggap sebagai dalang pertikaian dan meletusnya peperangan dalam
keluarga. Ada pihak-pihak yang hendak menyingkirkan Mokodoludug dari singgasana
kepemimpinan. Ada keluarga yang berpihak dan membela Mokodoludug ditekan, dan
pertikaian semakin menjadi-jadi. Itu sebabnya Baunia dan Mokodoludug sepakat
dengan ikhlas meninggal-kan negeri Bawontahu.
Kulrano Mokodoludug dan Boki Baunia ditemani sejumlah
pengikut me-ninggalkan negeri
Bowontehu di Molibagu. Menyusuri perjalan yang
sulit, akhirnya mereka tiba di daerah Balingbaling, suatu lokasi dekat pantai
di wilayah Pasan, Bentenan. Kemudian mereka pindah lagi ke suatu tempat, sebuah
dataran rendah yang tanahnya ditumbuhi banyak pohon. Tempat itu masih di
sebelah timur deretan gunung Wulur Mahatus, yang akhirnya me-reka beri nama
Pasolo –yang kemudian hari dikenal dengan nama Pulau Lembeh.
Singkat kisah, kehidupan di pulau Pasolo tidak nyaman lagi
sebab perompak sewaktu-waktu datang mengganggu. Rencana Mokodoludug untuk
segera pindah disetujui isterinya, Baunia –yang saat itu sedang mengan-dung
anak pertama. Beberapa lama setelah Lokong Banua lahir, Kulrano Mokodoludug dan
Boki Baunia bersama pengikutnya pindah lagi, lalu tiba di sebuah pulau yang
menjulang tinggi, yang dari jauh kelihatan seperti meng-apung di atas air.
Disebut belum dihuni oleh manusia, pantai bagian utara pulau
ini dise-kat oleh jejeran batu-batu hitam yang membentuk tanjung dan menjorok
ke laut. Hamparan batu-batuan hitam itu sangat eksotis, seperti ditata oleh
tangan keindahan alam. Pantainya berpasir halus, putih berpadu hitam. Banyak
pohon ketapang tumbuh dengan rimbun. Bukit-bukit kecil ditumbuhi ilalang dan
bambu. Pinggang gunung dibungkus pohon-pohon besar yang subur. Lebih ke atas
lagi, panggung gunung ditumbuhi hutan lebat. Kulrano Mokodolodug dan Boki
Baunia bersama pengikutnya memutuskan untuk menetap di pulau ini. Kulrano
Mokodludug memberi nama Masinggalrotang bagi pulau ini, sekarang pulau Manado
Tua.(*/alfeyn gilingan/1)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar