Pada Jumat siang itulah
terungkap bahwa investasi PMA (Penanaman Modal Asing) mengalami peningkatkan
yang signifikan. Tahun 2017, investasi PMA dan PMDN bertengger pada angka Rp
7,9 Triliun. Angka yang memang spektakuler, sebab pada RPJMD sebanyak 346
proyek dengan nilai target hanya sebesar Rp 2,5 Triliun. Dengan demikian, kelipatannya
mencapai 317,44% dari target yang ditetapkan.
Lebih menggembirakan, optimalisasi
potensi pengelolaan Pendapatan Asli Daerah (PAD) pada tahun 2017 mampu
dilakukan pemerintah provinsi Sulut. Tahun 2017 PAD mencapai Rp 1,4 Triliun,
meningkat cukup baik dari tahun 2016 yang mencapai angka Rp 981 Milyar.
Tahun-tahun mendatang, sejumlah potensi PAD masih dapat dioptimalkan sebab pada
tahun 2017 optimalisasi tertuju pada kebijakan intensifikasi dan
ekstensifikasi.
Maka sampai tahun 2017, kinerja
pemerintah provinsi Sulut yang dinakhodai Gubernur Olly Dondokambey, SE, dan damping
Wakil Gubernur Drs Drs. Steven O. E Kandouw benar-benar mengalami peningkatan
progresif di berbagai bidang. Capaian itu, sudah tentu, tidak lepas dari peran
serta para pimpinan dan staf seluruh Satuan Kerja Pemerintah Daerah (SKPD)
serta berbagai elemen mitra kerja, termasuk kesertaan peran masyarakat Sulawesi
Utara.
Pada kesempatan LKPJ
tersebut, Gubernur Olly Dondokambey, SE, juga secara terbuka menyampaikan bahwa
Sulut memperoleh dana perimbangan sebesar Rp 2.5 Triliun dan lain-lain pendapatan
daerah yang sah sebesar Rp 77 Milyar sehingga secara keseluruhan total
pendapatan daerah sebesar Rp 3,731 Triliun lebih.
Sejak awal memimpin Sulut, Gubernur
Olly Dondokambey, SE, melakukan gebrakan pengelolaan potensi di bidang
pariwisata yang di dalamnya mencakup perkembangan sarana penunjang pariwisata
seperti hotel dan kuliner. Pada LKPJ kali ini, Gubernur Olly juga menyampaikan bahwa
tahun 2017 telah dilakukan pengembangan pariwisata, termasuk promosi ke
mancanegara dan keikutsertaan dalam berbagai pameran promosi, yang berdampak
pada meningkatnya jumlah wisatawan mancanegara. Hingga tahun 2017, wisatawan
mancanegara mencapai 86.000 orang, sedangkan wisatawan nusantara berjumlah 1.698.523
orang.
Bertumbuhnya investasi PMA dan
PMDN di Sulut, dominan berada pada sektor pariwisata. Investasi bidang
pariwisata mengalami kenaikan signifikan dari Rp 4,5 Triliun di tahun 2016,
naik menjadi Rp 6 Triliun di tahun 2017. Pertumbuhan investasi ini berimbas
pada peningkatan ekonomi. Oleh sebab itu, perekonomian Sulut tahun 2017 tumbuh
sebesar 6,32 %, dengan kata lain meningkat sebesar 0,15 % dari tahun 2016 yang
berada pada poin 6,17 %.
Sementara itu, kuantitas
masyarakat miskin di Sulut mengalami penurunan. Dalam bahasa pemerintah, angka
kemiskinan turun karena mampu ditekan sebesar 0,3 % dari angka 8,20 % pada
tahun 2016 menjadi 7,9 % di tahun 2017. Begitu juga dengan jumlah masyarakat
produktif yang tidak punya pekerjaan; bahwa angka pengangguran Sulut sebesar
6,20 % di tahun 2016 berkurang menjadi 6,18 % pada tahun 2017. Untuk inflasi,
turun dari 3,31% di tahun 2016, menjadi 2,44% di tahun 2017.
Adapun pada bidang
pendidikan, Gubernur Olly Dondokambey,SE, secara terbuka menyebut berbagai
kemajuan dan prestasi yang telah dicapai. Mulai dari Angka Partisipasi Kasar
(APK), untuk SD 106,09 %, SMP 106.93 % dan SMA 88,22 %. Angka Partisipasi Murni
(APM) pada SD 89,93 %, SMP 76,19 % dan
SMA 61,97 %. Lalu Angka Partisipasi Sekolah (APS) usia 7-12 tahun sebesar 98,12
%, usia 13-15 tahun sebesar 88,50 % dan usia 16-18 tahun sebesar 68,52 %.
Begitu pula dengan angka
putus sekolah, tingkat SD 0,13 %, SMP 0,37 % dan SMA 0,08 % serta SMK 0,40 %. Angka
Melek Huruf 99,63 %, dengan ungkapan lain bahwa pemerintah Sulut telah mampu
menekan angka buta huruf hingga titik 0,37 %, dengan kontribusi rata-rata
bersekolah mencapai 9,09 tahun dan tingkat kelulusan untuk SD mencapai 100%
kelulusan, SMP 99,99 %, SMA 99.97 %, SMK 99,96 %.
Peningkatan terjadi juga pada
kualitas kesehatan masyarakat Sulut. Dalam capaian kinerja pemerintah provinsi,
Angka Harapan Hidup (AHH) meningkat hingga mencapai 71.02 tahun. Jumlah kasus
gizi buruk dari 40 kasus di tahun 2016, turun drastis hingga 25 kasus di tahun
2017 (berkurang 38 %).
Terhadap kasus gizi
buruk itu, telah dilakukan perawatan mencapai 100 %, sedangkan Angka Kematian
Ibu (AKI) menurun dari 54 kasus di tahun 2016 menjadi 36 kasus di tahun 2017, angka
kematian bayi juga menurun dari 250 kasus pada tahun 2016, menjadi 161 kasus di
tahun 2017.(alfeyn gilingan/*)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar