Tetapi dari perspektif mana pada mulanya kita hendak menelusuri jejak jalinan kisah kehadiran Manado? Tentunya harus dimulai dari perspektif pe-ngisahan kehadiran kerajaan Bawontehu, kemudian berlanjut pada kisah pu-lau Manado Tua hingga saat ini. Kecuali Jepang yang paling akhir telah memorak-morandakan kota kecil ini, Portugis, Spanyol, dan Belanda telah menghadirkan narasi dari perspektif masing-masing mengenai Manado Tua dan Manado.
Alih-alih sebutan nama Bawontehu menjadi Manado (Tua), memang be-lum dapat
ditegaskan secara lebih memadai dan pasti berdasarkan hasil pe-nelitian yang
paling baru pada kesempatan ini. Tetapi hadirnya sebutan Ma-nado Tua[1]
dan Manado sangat jelas dimulai pada awal abad ke-16. Tahun 1623[2].
Portugis disebut-sebut telah menggunakan istilah nama Manado se-cara formal
pada dokumen administratif yang diterbitkan di lingkungan pe-merintahan waktu
itu.
Hal tersebut merupakan indikasi kuat, bahwa sebelumnya sebutan atau nama
Manado sudah kerap digunakan oleh penduduk Bawontehu dan seki-tarnya sebagai
Manado Tua di Bawontehu, dan Manado berada di wilayah daratan dimana sudah ada
pemukiman baru yang (didirikan dan) berdiri. H. B.Palar penuh percaya diri menulis,
bahwa nama Manado Tua dan Manado mulai berkembang tahun 1520 melalui korespondensi
padri-padri Spanyol setelah berhasil mendarat di daratan Tumpahan Wenang setelah
diantar oleh orang-orang Bawongtehu[3].
Pemukiman baru yang berdekatan dengan Wenang itu mereka namakan Sidola dan
saat ini dikenal dengan nama Sindulang. Jadi, nama Manado semula berlokasi di
pulau itu lalu dibawa serta berpindah dan menjadi nama pemukiman yang lebih
luas di wilayah daratan[4],
sehingga kemudian nama pulau disebut Manado Tua. Artinya, ada dinamika peradaban
yang mendo-rong lahirnya konsensus lisan segenap masyarakat yang mendiami
negeri Bawontehu dan berikatan dengan Wenang serta perkampungan lain di seki-tarnya
pada waktu itu sudah ada, sesungguhnya telah menyebut bahwa di sana: Manado
Tua, dan di sini: Manado; bahwa Manado Tua adalah sebutan atau nama bagi sebuah
pulau yang awalnya bernama Masinggalrotang dan dikenal sebagai pusat
Kerajaan Bawontehu, sedangkan Manado adalah se-butan atau nama bagi sebuah
wilayah yang lebih besar dan kemudian terdiri dari banyak perkampungan seperti
Sindulang, Singkil, Wenang, Ares, dan sebagainya karena waktu itu belum ada
se-Mahasa atau Minahasa.
Oleh karena itu, pernyataan Paul Richard Renwarin[5]
patut diapersiasi secara objektif. Renwarin mengatakan Manado Tua dan juga
pulau-pulau sekitarnya bukan bagian (dari budaya) Minahasa karena penduduk di
sana umumnya bekerja menangkap ikan, sebagai nelayan. Tetapi Bert Supit[6]
bertolak belakang membuat deskripsi mengenai (muasal orang) Manado Tua yang
pada zaman purba dikenal sebagai pusat kerajaan Bawontehu itu. Mungkin dalam
kategori teritori, Supit memasukan Manado (Tua) dan pulau-pulau sekitarnya
sebagai bagian tanah Minahasa.
Pendapat Supit juga diikuti oleh Jessy Wenas[7].
Mungkin yang dimaksud Supit dan Wenas adalah dalam perspektif sebagai wilayah
atau teritori administrasi pemerintahan. Dugaan kedua penulis ini ada benarnya,
tetapi sayangnya tidak menyebut entah wilayah tertentu yang mana hendak di-maksud.
Waworuntu tidak menyebut dengan terang dan jelas sehingga ti-dak ideal
dijadikan rujukan sepenuh-penuhnya. Sedangkan A. L. Waworuntu (1891, juga dikutip
H. B Palar, 2009) yang mengutip beberapa pendapat terdahulu mengatakan soal
asal-usul orang dari kaum Bawontehu, adalah para pelarian dari wilayah tertentu
yang datang ber-sembunyi.
Sekali lagi, sebetulnya Kerajaan Bawontehu layak masuk dalam kategori
sebagai salah satu kerajaan tua di Nusantara. Oleh karena terletak di wila-yah
timur nusantara, waktu itu belum ada budaya tulis dan sejauh ini tidak ada
dokumen khusus, keberadaan kerajaan ini semakin terlupakan. Ada yang menyebut,
kerajaan ini sempat disebut Kerajaan Manado[8]
dan per-nah diambil alih oleh Raja Bolaang Mongondow, Laloda Mokoagow. Namun
Ahmad Saramat[9]
(alm) yang berasal dari Pulau Hitu-Tidore, menu-turkan bahwa sebetulnya Raja
Laloda Mokoagow tidak pernah menguasai Kerajaan Bawontehu dalam arti
menaklukannya melalui ekspansi peperangan, apa-lagi berbentuk tirani. Meskipun
riwayat ini mengandung kebenaran, dan pengambilalihan Kerajaan Bawontehu oleh
Raja Laloda Mokoagow yang punya enam belas isteri tersebut, ketika itu sudah
disebut sebagai Kerajaan Ma-nado.
Bahwasanya, Bawongtehu-Borgo-Manado dan
masyarakatnya sejak awal kehadiran, telah membangun adab maritim-agraris yang
kuat dan sampai saat ini tetap diteruskan oleh para generasi yang mewarisinya. Maka
sejak awal Manado memiliki potensi khas dan tilas kisah yang unik dan unggul. Terlepas
dari fakta yang sudah dikisahkan oleh sejumlah penulis dan telah disinggung di
atas, fakta utama dan menjadi pegangan primer bahwa saat ini ada pulau yang
menjulang tinggi di hadapan Manado di wilayah daratan yang bernama Manado Tua.
Artinya, Manado yang sekarang di wilayah
daratan adalah Manado ‘kate-gori baru’; bahwa sesungguhnya Manado dulunya
berada di pulau Manado Tua yang semula dikenal sebagai Bawontehu, dan Manado
yang dulu itu di kemudian hari sudah menjadi Manado ‘yang lama’, yakni sampai
sekarang disebut Manado Tua. Sayangnya, Manado yang baru itu, kini panoramanya sudah jauh
berbeda dengan yang dulu. Tidak ada lagi pasir putih yang ter-hampar, yang ada
adalah jejeran bangunan, mulai dari rumah tinggal, ru-mah toko dan gedung
bertingkat yang terus bertambah setiap tahun. Jum-lah bangunan dengan berbagai
ukuran bertambah banyak, mulai dari pesisir hingga mencapai puncak gunung.
Pesisir pantai sudah ditimbun, telah ber-diri rumah toko, mal dan hotel mewah.
Tidak ada lagi tempat sandar perahu bagi nelayan tradisional.
Jadi, lokasi Manado mula-mula ada di Manado Tua, dan nama ini ke-mudian
dibawa serta oleh kaum Bawontehu di Manado Tua yang eksodus ke wilayah daratan di
sekitar Tumpahan Wenang dengan alasan beragam dan tertentu. Mereka kemudian
membangun perkampungan Sindulang di bagian utara sekitar wilayah pelabuhan,
sementara orang-orang Tombulu yang tu-run dari atas gunung telah lebih dulu ada
dan menghadirkan negeri We-nang. Disebut-sebut bahwa waktu itu sebagian besar
dari orang Tombulu bekerja membuat garam di tepi pantai[10].
Pada pertengahan tahun 1500-an istilah nama Manado sudah disebut-sebut
oleh sejumlah antropolog dan kartograf barat. Tetapi dokumen-doku-men berupa
peta yang dibuat para kartograf, juga tidak luput dari pelbagai tafsir.
Beberapa kartograf dan antropolog itu pada prinsipnya menempatkan Manado pada
konteks yang tidak lebih obyektif, yang sangat mungkin dise-babkan oleh kondisi
waktu itu. Narasi-narasi itu berupa penggalan kisah amatan yang kemudian
dikutip lagi oleh penulis berikutnya ketika membuat publikasi baru tentang
kisah keha-diran Manado.(*/alfeyn gilingan/3)
[1] Manado Tua terletak di
Pulau Manado Tua, dulu bagian dari Kabupaten Minahasa tetapi sekarang ini
sebagai wilayah teritori Kota Manado.Manado Tua terdiri dari 12 dusun, tercakup
dalam dua kelurahan, yaitu Kelurahan Manado Tua Satu dan Kelurahan Manado Tua
Dua.
[2] Tahun ini kemudian menjadi rujukan utama bagi DPRD-GR
Kotamadya Manado dalam menetapkan mulai berdiri Kota Manado dan sampai saat ini
masih tetap digunakan sebagai patokan peringatan ulang tahun.
[3] Jelasnya, dalam Wajah Lama Minahasa, 2009, hal
168, H. B. Palar menulis seperti ini..‘’Sekitar tahun 1520-an, serombongan
pelaut Spanyol yang merupakan sebahagian armada mendiang Laksamana Magelhaens
berlabuh di sebuah tempat lebih ke utara dari Tumpahan Wenang (itu diperkirakan
di pantai Kima Bajo). Orang-orang Babontehu telah mengantar pelaut-pelaut itu
di Tumpahan Wenang. Lalu tempat yang mulanya bernama Wenang mulai disebut
Manado. Pemakaian nama itu berkembang terus terutama melalui korespondensi
paderi-paderi Spanyol maupun antar komandan pasukan dengan komandan mereka di
pos-pos induk. Proses itu berlaku terus dan lama, sehingga Wenang secara
permanen menjadi Manado, sedangkan Manado yang asli selanjutnya hanya dikenal
lagi sebagai Manado Tua atau bekas Manado ataupun Manado Ure’’.
[4] Namun tidak diperoleh
informasi dari orang-orang tua di Manado Tua maupun di Sindulang saat ini bahwa
sebutan nama Manado merupakan consensus bersama penduduk Manado pada waktu itu
sebagai pengganti nama Wenang sebagaimana yang dimaksud H. B Palar. Yang ada
ialah penjelasan Robertus Padtbrugge, 1679,
Beschrijving Der Zeden En Gewoonten Van De Bewoners Der Minahasa, hal. 3-6.
[5] Dalam Matuari wo Tonaas, Jilid I Mawanua
(Manado: Cahaya Pineleng, 2009).
[6] Dapat dibaca lebih lengkap dalam buku kecil
berjudul Porvinsi Minahasa – Sutau Wacana
Pemberdayaan Daerah dan Rakyat Melalui Reformasi Struktur Pemerintahan
Daerah Menuju Indonesia Baru. Manado,
Sulawesi Utara, 2001.
[7] Budayawan dan seniman (pencipta lagu) asal
Minahasa dan saat ini sudah lama berdomisili di Jakarta, penulis buku
Kebudayaan Minahasa, 2001.
[8] Ada yang mengakui dan
tidak sedikit yang mengatakan bahwa Kerajaan Manado itulah Kerajaan Bawontehu
atau Kerajaan Manado Tua.
[9] Dikisahkan langsung kepada penulis waktu
bertemu pada tahun 2010 di pusat kota Manado, beliau waktu itu masih tercatat
sebagai dosen di Universitas Manado (Unima, dulunya IKIP Manado).
[10] H.
B. Palar, Wajah Lama Minahasa (Manado: Yayasan Gibbon Indonesia, 2009), hal 222
menulis seperti begini…’’Tetapi berseberangan kearah barat terdapat sebuah
pulau yang bernama Manarow atau Manado yang kini disebut sebagai pulau Manado
Tua’’.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar